Ratusan Warga Lembang Gandang Batu Sillanan Protes Pemasangan Patok Hutan

  • Whatsapp

TANA TORAJA — Ratusan Warga Dusun Buntu Batu, Lembang Gandang Batu Sillanan, Kabupaten Tana Toraja melakukan protes terkait adanya pemasangan patok batas kelompok hutan gasing yang dilakukan oleh Pemerintah beberapa waktu lalu.

Warga menilai pemasangan patok itu tanpa adanya sosialisasi sebelumnya ke warga.

Bacaan Lainnya

Bahkan tanah yang di klaim oleh Pemerintah berdasarkan batas patok, terdapat kebun milik warga yang menjadi tempat mata pencarian dan juga terdapat cagar budaya dan situs peninggalan sejarah.

“Kami merasa resah, secara batin terpukul adanya pemasangan patok yang sebelumnya tidak dilakukan sosialisasi oleh pihak-pihak terkait kepada kami. Dimana dalam kawasan tersebut terdapat cagar budaya dan situs-situs peninggalan sejarah yakni kampung paladan (kampung tertua) dan situs peninggalan sejarah, yakni liang Bollo Lendong (makam batu tradisional suku Toraja), benteng-benteng peninggalan masa penjajahan Belanda dan juga terdapat beberapa rumah tongkonan (rumah adat suku toraja) dan kami juga telah membayar pajak sesuai SPPT,” Ucap Daniel Asin, salah satu warga yang melakukan protes adanya patok hutan tersebut.

Diakuinya pula, terkait hal tersebut ia bersama warga lainnya telah melakukan pelaporan ke pihak berwenang dan berharap untuk segera ditindak lanjuti.

Demikian halnya Lukas Gita, salah satu warga yang juga menolak atas pematokan kawasan hutan tersebut. Disebutkannya saat pemasangan patok itu dilakukan pada malam hari sesuai informasi warga lainnya.

“Seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah terkait, yakni mensejahtrahkan masyarakat sesuai dengan yang dikatakan oleh bapak Presiden Joko Widodo, tapi yang terjadi justru kebun milik warga dan situs peninggalan sejarah di klaim oleh Pemerintah terkait,” Ujarnya, Selasa (29/06/2021).

“Yang jelas kami masyarakat Buntu Datu akan terus melakukan perlawanan jika patok hutan tidak di cabut,” Tegasnya.

Menurut lukas Gita, pada Minggu, (20/6/2021) lalu, ia dan warga lainnya juga telah mengadakan rapat penolakan dan 203 warga telah melakukan penandatanganan penolakan keberadaan patok hutan tersebut. (Devid)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *